Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Tipuan di balik Kenikmatan Dunia

Dunia ibarat air laut

Diminum hanya menambah haus

Nafsu bagaikan fatamorgana di padang pasir

Panas yang membakar disangka air

Dunia dan nafsu hanya bayang-bayang

Disangka ada, ditangkap hilang

-Raihan-

Dunia memang selalu menggoda. Dunia selalu tampak indah dan menawan. Ia cantik mempesona dan memikat hati banyak manusia. Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda, “Dunia itu hijau dan manis” (HR. Muslim no. 7124). Ya, dunia memang penuh kesenangan dan kenikmatan.

Namun, dunia juga merupakan cobaan. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (QS. Al Kahfi: 7).

(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al Mulk: 2)

Sebenarnya, banyak orang yang telah memahami hakikat dunia ini, namun masih banyak pula yang terjebak di dalamnya. Yang paling menyedihkan adalah, orang yang tidak mengerti sama sekali hakikat dunia. Mereka adalah orang-orang yang terombang-ambing dalam pusaran gelombang hawa nafsu yang sengaja dipasang oleh syetan untuk dijadikan perangkap dalam menyesatkan manusia.

Jauh-jauh hari, para ulama telah memperingatkan kita akan bahaya dunia jika tidak dipahami secara benar. Imam Ghazali dalam kitabnya, Al Ihya, menulis satu bab khusus berisi tentang hakikat dunia dan seluk beluknya secara mendetail. Hadis-hadis yang secara tegas menggambarkan betapa hinanya dunia pun sangatlah banyak.

Suatu hari, Rasulullah SAW melewati sebuah bangkai kambing yang tergeletak di tanah, lalu beliau bersabda, “Tidakkah kalian lihat betapa hinanya bangkai ini?”. Para sahabat menjawab, “Karena hina itulah pemiliknya membuangnya, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau bersumpah, “Demi Allah yang menggenggam jiwaku, sungguh dunia lebih hina di mata Allah daripada bangkai kambing ini. Andaikan dunia setara dengan sayap nyamuk saja, niscaya orang kafir takkan diberi minum.” (HR. Ibnu Majah, Hakim, Tirmidzi)

Itulah harga dunia yang digambarkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Barangsiapa mencintai dunianya, maka ia harus siap mengorbankan akhiratnya. Dan barang siapa mencintai akhiratnya, maka ia harus rela mengorbankan dunianya. Maka pilihlah di antara dua hal tersebut yang paling kekal dan tinggalkanlah yang fana. (HR. Ahmad, Bazzar, Ibnu Hibban, Hakim, ia mensahihkannya)

Seperti kita ketahui bersama, penjara adalah sebuah tempat yang amat tidak disukai. Dalam penjara manusia tak menemukan kebebasan. Banyak kekang dan larangan di sana-sini. Banyak aturan dan tetek-bengek yang harus ditaati. Demikian pula dunia ini. Bagi seorang mukmin, dunia tak ubahnya sebuah penjara yang mengekang kebebasannya. Ada batas halal-haram yang tak boleh diterjang. Ada aturan-aturan yang tak boleh ditentang. Ada saat-saat tertentu ia tidak diperbolehkan makan, minum dan berjima. Ada saat-saat tertentu ia harus bangun dari tidur, lalu mengambil air untuk mensucikan dirinya lalu berdiri menghadap Rabbnya. Ada makanan, minuman, dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang tidak boleh dikonsumsi. Segalanya penuh dengan rambu-rambu.

Sementara bagi orang kafir, dunia adalah surga yang penuh kenikmatan. Tak ada istilah haram dalam kamus mereka. Mereka hidup dalam kebebasan. Aturan tak mereka indahkan. Larangan mereka terjang. Mereka dapat hidup semaunya. Yang haram bisa jadi halal asalkan sesuai hawa nafsu mereka.

Allah SWT menggambarkan mereka dalam firman-Nya:

Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka. (QS. Muhammad: 12)

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 3)

Orang kafir tidak memahami bahwa masih ada kehidupan lagi setelah kehidupan di dunia ini. Mereka tak mengerti bahwa dunia pada hakikatnya adalah ruang ujian, tempat menyeleksi para peserta ujian yang berhak memasuki kehidupan sebenarnya. Oleh karena itu, mereka tak pernah berpikir sedikitpun untuk mempersiapkan kehidupan baru tersebut. Orientasi mereka hanyalah menuruti kemauan hawa nafsu dan memuaskannya. Mereka tak ubahnya seperti binatang ternak yang hanya memikirkan urusan “perut dan bawah perut”. Padahal, tak ada kenikmatan yang abadi di dunia ini. Semuanya semu, semuanya sementara dan semuanya hanya sedikit.

Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS. At Taubah: 38)

Oleh karena itu Rasulullah SAW memuji orang-orang mukmin dan menyebut mereka sebagai orang-orang cerdas, “Orang cerdas adalah orang yang mengekang hawa nafsunya dan mempersiapkan perbekalan untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)

Allah SWT juga memperingatkan orang-orang mukmin agar tidak merasa iri dengan kenikmatan yang diberikan kepada sebagian hamba-Nya yang lain dalam masalah dunia.

Jangan kamu arahkan pandanganmu kepada kenikmatan (duniawi) yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai hiasan dunia saja, untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thaha: 131).

Di mata para nabi dan orang-orang shaleh, dunia tak memiliki nilai sama sekali. Mencintai dunia merupakan sumber malapetaka (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman). Segala macam kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, sebagian besarnya disebabkan oleh cinta dunia. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, permusuhan sesama saudara karena masalah harta warisan, iri dan dengki karena keberhasilan orang lain dan kerusakan-kerusakan lainnya merupakan buah dari menipisnya keimanan terhadap Hari Akhir dan kecintaan terhadap dunia yang berlebihan.

Oleh karena itu, para ulama selalu memperingatkan kita agar tidak terlena dengan tipu daya dunia yang tampak indah di mata. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya kecuali yang ditujukan untuk Allah”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dunia, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Al Ihya, terbagi menjadi tiga kategori:

Pertama, segala sesuatu yang hanya dapat kita rasakan ketika kita masih hidup dan tak dapat bermanfaat di akhirat. Kenikmatan ketika melakukan kemaksiatan, perkara-perkara mubah yang berlebihan, bersenang-senang dengan perkara-perkara duniawai seperti harta, wanita, anak, kendaraan, makanan, pakaian dan lain sebagainya merupakan contohnya.

Kedua, segala sesuatu yang akan terus menemani kita sampai di akhirat dan hasilnya dapat kita nikmati di sana. Kategori ini hanya mencakup dua hal, yaitu ilmu dan amal.

Ketiga, pertengahan antara yang pertama dengan kedua, yaitu segala sesuatu yang kita rasakan di dunia namun dapat menopang kehidupan di akhirat. Kategori ini merupakan kebutuhan primer yang tak dapat terlepas dari manusia, yaitu kebutuhan yang harus tercukupi demi mempertahankan kelangsungan hidup manusia, seperti makanan secukupnya, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan jasmani. Jika kategori ketiga ini dimanfaatkan dengan baik untuk menghasilkan ilmu dan amal, maka ia berubah menjadi kategori kedua. Namun jika tidak, maka ia menjadi kategori pertama.

Di antara ketiga kategori di atas, bagian pertamalah yang dimaksud dengan dunia yang tercela. Itulah dunia yang sangat berbahaya dan mematikan. Meminumnya sama dengan menenggak racun. Menjauhinya merupakan jalan keselamatan. Semoga kita diselamatkan dari fitnah dunia. Amin.

Wallahu a’lamu bis showab.

Kisah Sedih Pencuci Piring

Bismillahirrahmanirrahim……

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Siapa yang paling berbahagia saat pesta pernikahan berlangsung? Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Meski lelah menderanya namun tetap mampu tersenyum hingga tamu terakhir pun. Berbulan bahkan hitungan tahun sudah mereka menunggu hari bahagia ini. Mungkin orang tua si gadis yang baru saja menuntaskan kewajiban terakhirnya dengan mendapatkan lelaki yang akan menggantikan perannya membimbing putrinya untuk langkah selanjutnya setelah hari pernikahan. Atau bahkan ibu pengantin pria yang terlihat terus menerus sumringah, ia membayangkan akan segera menimang cucu dari putranya. “Aih, pasti segagah kakeknya,” impinya.

Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura kebahagiaan, itu nampak dari senyum, canda, dan keceriaan yang tak hentinya sepanjang mereka berada di pesta. Bagi sanak saudara dan kerabat orang tua kedua mempelai, bisa jadi momentum ini dijadikan ajang silaturahim, kalau perlu rapat keluarga besar pun bisa berlangsung di sela-sela pesta. Sementara teman dan sahabat kedua mempelai menyulap pesta pernikahan itu menjadi reuni yang tak direncanakan. Mungkin kalau sengaja diundang untuk acara reuni tidak ada yang hadir, jadilah reuni satu angkatan berlangsung. Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya di amplop yang tertutup rapat.

Nyaris tidak ada hadirin yang terlihat sedih atau menangis di pesta itu kecuali air mata kebahagiaan. Kalau pun ada, mungkin mereka yang sakit hati pria pujaannya tidak menikah dengannya. Atau para pria yang sakit hati lantaran primadona kampungnya dipersunting pria dari luar kampung. Namun tetap saja tak terlihat di pesta itu, mungkin mereka meratap di balik dinding kamarnya sambil memeluk erat gambar pria yang baru saja menikah itu. Dan pria-pria sakit hati itu hanya bisa menggerutu dan menyimpan kecewanya dalam hati ketika harus menyalami dan memberi selamat kepada wanita yang harus mereka relakan menjadi milik pria lain.

Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah dua puluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. dua puluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya. Sedih, pasti.

Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.

Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari doa-doa para tamu yang hadir.

Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.

Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu. Andai pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu.

Sekadar usul untuk Anda yang akan melaksanakan pesta pernikahan, tidak cukup kalimat “Mohon Doa Restu” dan “Selamat Menikmati” yang tertera di dinding pesta, tapi sertakan juga tulisan yang cukup besar “Terima Kasih untuk Tidak Mubazir”. Mungkinkah?

Semoga tulisan sederhana ini membawa banyak manfaat bagi yang membacanya. Segala... kesalahan adalah dari saya pribadi, untuk itu saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan kebenaran itu mutlak milik Allah Azza Wa Jalla...Wallahu Musta'an

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika . . ..•*´`*•.♥♥.•*´`'•.¸*¤* ¸.•'´´*•.♥♥.•*´`*•.

oleh admin.http://www.facebook.com/pages/Laki-Laki-Sholeh-Wanita-Sholehah/105363279542057
ƸӜƷ.¸¸✿¸.•❤•.❀.ƸӜƷ.❀.•❤•.¸
✿¸¸.ƸӜƷ
Dipersilahkan bagi yang ingin share and tag...
♥♫♥♫♥♫♥♥♫♥♫♥♫♥♥♫♥♫♥.