Kamis, 03 November 2011

Catatan Kaki


Catatan kaki / foot note merupakan keterangan atas teks karangan yang diletakkan pada kaki halaman atau pada akhir bab. Dilakukan dengan penomoran menggunakan angka arab (1,2,..) di bagian yang diberi catatan kaki, agak ke atas tanpa tanda apapun, urut dari setiap halaman, setiap bab,  atau  seluruh tulisan.

FUNGSI CATATAN KAKI
1.    Untuk  menyusun pembuktian.
2.    Menyatakan utang budi
3.    Menyampaikan keterangan tambahan
4.    Merujuk bagian lain dari teks
UNSUR CATATAN KAKI
          Untuk buku
          1.      Nama pengarang (editor, penerjemah), ditulis dalam urutan                        biasa, dikuti tanda koma.
2.      Nama pengarang dicantumkan sesuai dengan urutan biasa yaitu: gelar (kalau ada), nama kecil,        nama keluarga.
                    Misalnya: Prof. Dr. Muhammad Thalib, Dr. B . C Hansip, dsb.
                   Pada penunjukan yang kedua dan selanjutnya cukup dipergunakan nama singkat misalnya: Thalib, Hansip, dsb.
          3.      Tahun penerbitan
          4.      Judul buku ditulis dengan huruf kapital kecuali kata                                     tugas,ditulis dengan huruf miring atau digarisbawahi.
          5.      Data publikasi
                   a. Judul jilid , nomor jilid kalau ada.
                   b. Nomor cetakan kalau ada
c. Kota penerbit diiktui titik dua(...: ditulis  dalam tanda    kurung)   
                   d. Nama penerbit diikuti koma
6.       Nomor halaman diikuti titik dengan singkatan “hlm.” atau “p” (page) misalnya p. 78 berarti yang dikutip hlm.78, pp. 45-50 berarti yang dikutip hlm. 45 sampai hlm.  50.
CONTOH CATATAN KAKI
1Richard Rodger, 1999. The Nature of Language, terjemahan oleh Richard Wardough. (New York: Pergamon Ltd), hal. 35,et. seq.
Catatan et.seq. atau et seqq. Singkatan dari et seque

SINGKATAN DALAM CATATAN KAKI
Apabila suatu buku dikutip berkali-kali, penulisan catatan kaki yang kedua dan seterusnya sbb.:
1.    Ibid, kependekan dari ibidem, yang berarti pada tempat yang sama atau pada pekerjaan yang sama.Ibid dipakai apabila suatu kutipan diambil dari buku yang sama dengan buku yang disebutkan sebelumnya secara berturut-turut dengan halaman yang berbeda. Setelah kata ibid cukup menuliskan halaman.
      Contoh
          1A.Chaedar Alwasilah, 1998.Bunga Rampai Pengajaran  
        Bahasa.(Bandung: IKIP Bandung Press),hal.3
       2ibid. hal.7
2.    Op.cit. Kependekkan dari opera citato yang berarti pada karangan yang telah dikutip. Op. Cit. Dipakai jika suatu kutipan diambil dari sumber yang telah disebutkan sebelumnya namun sumber itu telah diselingi sumber lain dalam halaman yang berbeda.
Contoh
1Daniel Gile,1990.Basic Concept and Models for Interprete and Translator Training. (Philadelphia: John Benyamin Publishing Company),hal.47
2Nancy Frisberg, 1998. Interpreting: An Introduction, Revised Edition.( Maryland: RID Publication),hal. 13
          3Daniel Gile.Op.Cit. hal. 56
3.    Loc. Cit.
4.    Loc. cit. Kependekan dari loco citato, yang berarti pada tempat/halaman yang telah dikutip,( biasanya untuk menunjuk kepada artikel majalah, harian,ensiklopedi yang telah disebut sebelumnya), artikel mrpk.sebagian dari buku atau ensiklopedi , maka mrpk sebuah karya/opus. Sebab itu hanya boleh dipergunakan kata Locus yang berarti tempat.  Loc.cit. Dipakai jika suatu kutipan diambil dari sumber yang sama,tetapi telah diselingi sumber lain,tidak boleh diikuti nomor hal. Karena penunjukkan itu tidak kepada karya atau opus secara keseluruhan, tetapi merujuk hal. tersebut.
5.     Contoh
6.    1Ronald Wardhaugh,1997. Introduction to Linguistic. (New York: Mc.Graw Hill Boo), hal.198
7.    2Victoria Fromkim, 1978. An Introduction to Language. (Los Angeles: Rinchart and Winston Publication), hal. 57
8.    3  Ibid.
9.    4Ronald Wardhaugh.loc.cit.

PENERAPAN CATATAN KAKI dan SINGKATAN
1 Edgar Sturtevant, An Introduction to Linguistics Science (new haven,1947),hal.20 et seq.
2 Ibid.
3 ibid. hal. 30
4 Richard Pittman,” Nauhatl Honorifiks,” International Journal of American Linguistics, XI (April, 1950), 374 et seq.
5 H.A Gleason, An Introduction to Deskriptive Linguistics, (Rev. ed.;New York: Holt ,Rinehart and Winston, 1961) , hal.51 -52.
6 Ibid.
7 Ibid hal. 56.
Sturtevant, Op. Cit, hal. 42 et. Seq
9 M. Ramlan , “ Partikel- Partikel Bahasa Indonesia,” Seminar Bahasa Indonesia 1968 (Ende : Nusa Indah, 1971), hal. 122.
10Robert Ralph Bolgar, Retorick,” Encyclopaedia Britanicca, 1970, 257 260.
11Sturtevant, Op. Cit. Hal. 50.
12 Ibid.
13. Bolgar, loc. Cit. Hal. 260.
14 Pittman, loc. Cit. Hal. 376.
15 Ramlan , loc. Cit. Hal. 122
16 Gleason, op. Cit. , hal. 54 et. Seq.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar